Di tengah dunia yang semakin terbuka dan penuh tantangan, keluarga menjadi benteng pertama dan terpenting bagi setiap anak. Lingkungan luar—sekolah, pergaulan, media sosial—sering membawa pengaruh yang tidak selalu baik. Karena itu, rumah harus menjadi tempat paling aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak. Dalam keluarga yang sehat dan hangat, anak menemukan ketenangan hati, perlindungan, dan pembinaan iman yang tidak bisa digantikan oleh lingkungan mana pun.
Allah menegaskan bahwa keluarga adalah amanah besar yang harus dijaga. Firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa orang tua bertanggung jawab penuh memberikan perlindungan, pendidikan, dan keteladanan. Tidak hanya melindungi secara fisik, tetapi juga dari pengaruh moral, akhlak, dan pergaulan yang merusak.
Rasulullah ? pun bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang tua adalah pemimpin rumah tangga, dan kepemimpinan itu terutama diwujudkan dalam keteladanan.
Anak-anak berada di fase rentan. Mereka mudah meniru dan menyerap apa pun yang ada di sekitar mereka. Jika lingkungan luar toxic—penuh perilaku kasar, pergaulan buruk, atau nilai yang bertentangan dengan iman—maka rumah dan orang tua harus menjadi penyeimbang yang kuat.
Keteladanan orang tua adalah pendidikan terbaik. Akhlak yang lembut, tutur kata yang baik, dan kebiasaan ibadah yang konsisten akan lebih membekas daripada nasihat panjang.
Ibnul Qayyim berkata:
“Anak-anak tumbuh di atas kebiasaan orang tuanya. Jika orang tuanya jujur dan saleh, anak pun cenderung begitu. Jika orang tuanya rusak, anak pun mudah terbawa rusak.”
(Ibnu Qayyim, Tuhfatul Maudud)
Artinya, rumah harus menjadi tempat dimana anak merasa aman untuk bercerita, didengar, dihargai, dan mendapat contoh nyata tentang kesabaran, keimanan, dan akhlak mulia.
Dalam psikologi modern, lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap daya tahan mental anak (resilience).
Ahli parenting Diana Baumrind menyatakan bahwa:
Anak yang tumbuh dari keluarga penuh kasih, disiplin lembut, dan keterbukaan komunikasi cenderung lebih kuat menghadapi tekanan sosial dan pengaruh negatif.
Sementara Dr. James Dobson, pakar parenting dunia, menegaskan:
“Anak membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung emosional, bukan hanya tempat tinggal. Di sanalah ia menemukan ketenangan yang tidak ia dapatkan di luar.”
Maka ketika rumah menjadi tempat yang penuh konflik, kemarahan, dan ketidakhadiran orang tua, anak akan mencari kenyamanan di luar, sering kali pada teman yang membawa pengaruh buruk.
Rasulullah ? mengingatkan betapa besar pengaruh teman:
“Seseorang itu mengikuti agama temannya. Maka lihatlah dengan siapa ia berteman.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Karena itu, jika pergaulan anak di luar rumah cenderung buruk, maka rumah harus menjadi tempat yang lebih nyaman, lebih hangat, lebih membahagiakan dari lingkungan itu.
Ketika orang tua shalat tepat waktu, membaca Qur’an, bersikap lembut, dan membangun komunikasi sehat, hal itu menjadi “penyegar iman” bagi anak setelah seharian berinteraksi dengan dunia luar yang kadang keras.
Beberapa langkah sederhana namun sangat berdampak:
Tidak hanya bersama anak, tetapi benar-benar hadir untuk mendengar dan memahami mereka.
Anak akan mengikuti apa yang orang tua lakukan, bukan apa yang mereka katakan.
Menghindari pertengkaran di depan anak, menjaga ucapan, dan sering menguatkan anak dengan doa.
Shalat berjamaah, membaca Qur’an bersama, dan doa malam menjadi penopang ketenangan batin.
Ajak anak bercerita, tanyakan perasaan mereka, dan jadilah tempat curhat terbaik bagi mereka.
Keluarga adalah benteng terakhir yang melindungi anak dari pengaruh toxic di luar. Keteladanan orang tua—dalam ibadah, akhlak, dan kasih sayang—adalah penyejuk iman terbesar bagi anak. Rumah yang penuh cinta tidak hanya mencetak anak yang kuat secara iman, tetapi juga bahagia, percaya diri, dan siap berhadapan dengan berbagai tantangan zaman.
Semoga Allah menjadikan keluarga kita sebagai tempat yang damai, teduh, dan penuh keberkahan.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menjadikan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)